Angkat Topi untuk Ketua Ian

Hari ini tepatnya tanggal 22 Februari 2023 merupakan hari terakhir Abdul Rosyad Irwan menahkodai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bekasi. Sederet pencapaian positif telah ditorehkan pria asli Bekasi tersebut selama dua periode kepemimpinannya.

Pada periode 2014-2018 atau periode pertamanya, pria yang akrab disapa Ian Rasyad tersebut mampu membawa KONI Kota Bekasi duduk di peringkat ke lima pada gelaran Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat ke XIII tahun 2018 yang digelar di Bogor atau berhasil naik satu peringkat dari Porda tahun 2014 yang digelar di Kabupaten Bekasi.

Sementara di periode keduanya, Kota Bekasi berhasil dibawanya duduk di peringkat ke-4 pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke XIV tahun 2022. Meski gagal mencapai target tiga besar, namun banyak capaian positif yang berhasil diraih Kota Bekasi pada even olahraga terbesar se-Jawa Barat itu.

Salah satu capaian positif tersebut antaralain meningkatnya perolehan medali emas Kota Bekasi dari 48 emas pada Porda 2018 menjadi 77 medali emas pada Porprov 2022 beberapa waktu lalu.

Hebatnya, Kota Bekasi bisa mengungguli Kota Bogor dan Kabupaten Bandung Barat baik dari capaian medali maupun peringkat. Padahal kita tahu, dua kota tersebut merupakan langganan lima besar di hajat olahraga empat tahunan itu.

Soal gagalnya target tiga besar yang dicanangkan KONI Kota Bekasi juga bisa dimaklumi, sebab tiga daerah yang berhasil duduk di peringkat tiga besar yakni Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bandung merupakan daerah yang punya rekam jejak pernah menjadi juara umum pada even ini.

Kabupaten Bekasi yang menjadi juara umum pada Porprov 2022 pernah menjadi juara di 2014, sementara di peringkat kedua ada Kabupaten Bogor yang pernah juara umum di Porda 2018 begitupun dengan Kota Bandung yang merupakan juara umum pada Porda 2010.

Di samping lawan yang berat, KONI Kota Bekasi punya sederet kendala untuk meraih prestasi maksimal. Kendala tersebut mulai dari minimnya sarana dan prasaran olahraga yang memadahi untuk latihan atlet, hingga kecilnya alokasi anggaran pembinaan yang dikucurkan pemerintah daerah.

Soal sarana dan prasarana olahraga, jelas Kota Bekasi kalah jauh dari saudara tua mereka Kabupaten Bekasi. Sebagai daerah yang pernah menjadi tuan rumah Porda, Kabupaten Bekasi punya sarana dan prasarana olahraga yang jauh lebih mentereng dibandingkan Kota Bekasi. Begitu juga dengan Kabupaten Bogor, yang pernah jadi tuan rumah pada 2018.

Belum lagi bicara anggaran, bila Kota Bekasi mendapat anggaran di bawah Rp50 Miliar, Kabupaten Bekasi sebaliknya, anggaran yang dikucurkan pemerintah daerahnya nyaris menyentuh angka Rp100 Miliar. Dengan perbandingan layaknya bumi dan langit itu, maka capaian Kota Bekasi pada Porprov 2022 layak mendapat apresiasi tinggi.

Keterbatasan-keterbatasan tersebut menjadi bukti kepiawaian Ian Rasyad dalam memimpin KONI Kota Bekasi.

Di luar prestasi, sebagai Ketua KONI, Ian Rasyad mampu menjadikan KONI Kota Bekasi menjadi sebuah organisasi yang bebas dari kepentingan di luar olahraga seperti politik misalnya.

Ia justru mampu memadukan semua warna politik di Kota Bekasi untuk sama-sama membangun olahraga Kota Bekasi. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya cabang olahraga (cabor) yang dinahkodai politisi dari beragam partai.

KONI, tidak didominasi satu warna politik, hebatnya, ia mampu memagari KONI untuk tidak didominasi kekuatan politik.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Bekasi di era reformasi tersebut juga sosok yang punya relasi yang cukup baik dengan sejumlah kalangan salah satunya KONI Jawa Barat.

Berkat bagusnya relasi, ia mampu menggoalkan Kota Bekasi sebagai salah satu tuan rumah bersama pada Porprov 2026. Padahal bila melihat sarana dan prasarana yang ada, Kota Bekasi jauh dari kata siap.

Serangkaian capaian di masa kepemimpinan Ian Rasyad adalah warisan yang baik yang dirinya tinggalkan untuk kepengurusan KONI Kota Bekasi periode 2022-2026. Kerja-kerja yang sudah dilakukan semestinya bisa tetap dirawat bukan dirusak.

Sayangnya, di akhir-akhir masa bhakti, para pelaku olahraga di Kota Bekasi justru terlalu sibuk dalam wilayah suksesi kepemimpinan KONI Kota Bekasi. Ian Rasyad seolah tenggelam dalam hingar-bingar pemilihan Ketua KONI Kota Bekasi.

Lebih menggelitik, Tri Adhianto selaku Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Bekasi juga ikut menceburkan diri dalam kontestasi pemilihan Ketua KONI Kota Bekasi.

Padahal dengan statusnya sebagai kepala daerah semestinya ia memposisikan diri di tengah-tengah seperti yang dilakukan para pendahulunya baik Mochtar Mohamad atau Rahmat Effendi.

Suka tidak suka, kehadiran Tri merusak tradisi yang dibangun Ian Rasyad selama dua periode kepemimpinannya.

Ke depan, bukan tidak mungkin, tradisi yang dibangun oleh Ian Rasyad di tubuh KONI Kota Bekasi berpotensi hancur jika Tri yang berpeluang besar menang dalam pemilihan Ketua KONI Kota Bekasi memimpin KONI Kota Bekasi.

Dan gelagat itu sudah terlihat dimulai dari cara dia mendaftarkan diri sebagai calon Ketua KONI Kota Bekasi. Di mana dalam menggalang syarat dukungan, pihaknya menggunakan pendekatan kekuasaan kepada sejumlah cabang olahraga yang sebagian dikepali oleh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang notabene anak buahnya di Pemkot Bekasi.

Namun terlepas seperti apa wajah KONI Kota Bekasi usai ditinggal Ian Rasyad, namun yang jelas kita perlu angkat topi atas apa yang telah dilakukan Ketua Ian, biasa ia disapa selama menjadi nahkoda KONI Kota Bekasi.(TIM)

Tinggalkan komentar