Opini  

Filsuf Jurgen Habermas Pemikir Neo-Marxis dari Tradisi Madzab Frankfurt

Avatar photo
Naupal Al Rasyid, SH., MH Selaku Direktur LBH FRAKSI 98.

Jurgen Habermas menjadi salah satu filsuf dan sosiolog paling berpengaruh di era pasca-Perang Dunia II yang merupakan generasi kedua sekaligus pembaharu tradisi Frankfurt School (Mazhab Frankfurt) telah berpulang tanggal, 14 Maret 2026 pada usia 96 tahun di Starnberg Jerman.

Jurgen Habermas mulai dikenal luas saat mengajar filsafat dan sosiologi di Universitas Frankfurt pada medio tahun 1960. Ia merupakan tokoh utama generasi kedua Mazhab Frankfurt, sebuah aliran pemikiran yang mengkritik kapitalisme dari sudut pandang “Kiri Baru” yang berbeda dari Marxisme ortodoks.

Habermas juga dinilai sebagai seorang teoritikus Neo-Marxisme yang pada tahun-tahun awal karirnya dia secara langsung sudah diasosiasikan dengan Madzab Kritis.

Sekalipun, dia memberikan sumbangan penting pada teori kritis, selama bertahun-tahun dia menggabungkan teori marxian dengan banyak masukan teori yang lain dan menghasilkan serangkaian gagasan teoritis yang sangat khas (George Ritzer, 2003).

Habermas adalah juru bicara yang paling kuat dan berpengaruh sekarang ini dari tradisi Madzab Frankfurt.

Dalam konteks Marxisme pada umumnya, Habermas adalah seorang filsuf yang kritis terhadap pemikiran-pemikiran Marxis, bukan hanya Marxisme-ortodoks, melainkan juga Neo-Marxisme pada umumnya.

Seperti para pendahulunya ia bermaksud menyesuaikan warisan Marxis dengan tuntutan-tuntutan zaman ini dan lebih melakukan kritik karena bagi Habermas karya Marx ini merupakan kritik dengan jalan tidak hanya dengan mengupas karya-karya Marx tetapi juga melakukan penafsiran ulang dari penafsiran yang dilakukan oleh para penganut aliran ini.

Corak penafsiran Habermas bersifat ilmiah dan filosofis, ia berusaha mengeliminir ciri-ciri romantis dari pemikiran Marx yang secara dominan mempengaruhi Adorno, Hokheimer dan Marcuse.Hal ini, ia lakukan dengan tujuan Habermas ingin memurnikan pemikiran-pemikiran Marxis dari romantisme maupun positivisme yang dianut oleh partai-partai komunis dan cendekia marxis lainnya. (Hardiman, 1990).

Untuk menerjemahkan karya-karya Karl Marx sebagai kritik, Habermas mengolah dua kelompok permasalahan dasar dari ajaran-ajaran Marx.

Kelompok permasalahan pertama adalah usaha untuk menemukan pertautan antara teori dan praxis, suatu masalah yang sudah ada sejak Karl Korsch.

Kelompok permasalahan kedua adalah materialisme sejarah, khususnya konsep Marx tentang kerja sosial, sejarah spesies, teori superstruktur dan dialektika hubungan-hubungan produksi dan kekuatan-kekuatan produksi.

Kedua masalah ini, akan dibicarakan dalam pembahasan tentang pembedaan radikal mengenai praxis. Habermas sama seperti penganut mazhab kritis lainnya yang berusaha menerjemahkan warisan Marxisme bagi zaman sekarang. Ia merupakan penerus Marxisme dari generasi kedua mazhab Frankfurt. (Listiyono Santoso, 2006).

Dalam menjawab pertanyaanpertanyaan kritis, Habermas secara radikal memberikan jawaban. Kritik utama yang diajukan Habermas atas Marx antara lain adalah, bahwa sejarah filsafat materialistik dari Marx masih terlalu tergantung pada Hegel.

Menurut Habermas, prandaian metafisis yang masih menentukan ajaran Marx harus diganti dengan kritik atas masyarakat. Kritik ini harus menghindari segala macam pengandaian metafisis.

Berikutnya, Habermas berkeyakinan bahwa Marx keliru dalam menunjukkan kaum proletar sebagai subjek revolusi, karena sejarah selanjutnya tidak memenuhi harapan tersebut.

Tetapi sebenarnya, Marx sendiri sudah mengetahui bahwa dari individu-individu yang paling terasing dan “tercacat” secara sosial tidak dapat diharapkan perwujudan humanitas yang sejati.

Lagi pula harus ditolak pemisahan antara negara dengan masyarakat yang terdapat pada Marx. Kritik Habermas atas ajaran yang betul-betul hakiki bagi Marx akan cenderung menarik kesimpulan bahwa Marxisme sudah basi dan tidak bermanfaat lagi bagi zaman kita sekarang ini.

Termasuk dia mengatakan bahwa modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”. Namun demikian, Habermas tidak bertolak belakang dengan Marxisme, tetapi berusaha untuk menafsirkan kembali ajaran Marx bagi zaman sekarang. Dengan demikian ia memberanikan diri meninggalkan titik-titik ajaran yang klasik dan melampaui bentuk-bentuk Marxisme yang ada sekarang. (George Ritzer, 2003).

Terlepas dari gambaran di atas sebenarnya Habermas melihat bahwa, materialisme sejarah Marx merupakan suatu teori evolusi sosial yang mendasarkan diri pada paradigma kerja. Teori ini pada dasarnya merefleksikan suatu zaman Marx sendiri, yaitu zaman kapitalis liberal.

Sebagai ahli waris kapitalisme, Marx tidak berbuat lain kecuali memandang masyarakat sebagai proses produksi dan memandang sejarah sebagai tahap-tahap perkembangan cara-cara produksi.

Gagasan inti tersebut kemudian dibakukan oleh penganut Marxisme ortodoks dan gerakan buruh internasional.

Habermas ingin membebaskan teori ini dari dogmatisme dan melihat perlunya dua konsep dasar dari teori itu, yaitu konsep kerja sosial dan sejarah spesies yang menentukan pandangan tentang basis dan superstruktur.

Tujuan Habermas bukan untuk merombak susunan masyarakat yang ada, melainkan untuk mengkritik ideologi yang menopang tata masyarakat yang sedang berlaku. (F.R. Ankersmit, 1987).

Manusia dalam pandangan Marx membedakan dirinya dari hewan melalui kerja dan kerja manusia ditata secara sosial menjadi suatu kerja sosial. Oleh karena itu, ia memandang bahwa cara hidup manusia ditentukan oleh relasi alam luarnya melalui kerja sosial.

Konsep dan gagasan Habermas mempunyai kedudukan yang penting dalam teori kritis menyangkut tiga hal, yaitu kerja, aksi dan kekuasaan.

Bila kembali ke konsep dasarnya, maka rasionalisasi perkembangan masyarakat yang seimbang menyangkut tiga hal yaitu, rasionalisasi teknis di dalam dimensi kerja, rasionalisasi praktis di dalam dimensi interaksi, dan rasionalisasi sistem di dalam dimensi kekuasaan.

Dengan pandangan ini Habermas berusaha mengatasi Marxisme klasik maupun Neo Marxisme pada umumnya yang masih memandang perkembangan masyarakat sebagai sebuah perubahan hubungan-hubungan kerja.
Dalam arti ini, Habermas berpendapat bahwa basis masyarakat itu berubah-ubah dan tidak selalu ekonomi seperti dikira oleh Karl Marx.

Secara lebih fundamental dapat dikatakan bahwa sesuatu yang seperti basis dalam pandangan Habermas adalah komunikasi sosial yang berakar pada dunia kehidupan sosial yang berkembang dan berubah dalam sejarah manusia.

Selamat jalan, filsuf Jurgen Habermas seorang teoritikus Neo-Marxisme dan tokoh utama generasi kedua Mazhab Frankfurt. Pikiran-pikiran besarnya akan terus hidup sebagai referensi dalam studi ilmu sosial dan politik yang paling kuat dan berpengaruh dari sepanjang tradisi Madzab Frankfurt. “Danke schon”.

Oleh: Naupal Al Rasyid, SH.,MH (Direktur LBH Fraksi’98)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *