Berita  

Perkuat Pendidikan Inklusif, Pemerintah Pusat Revitalisasi Ruang Belajar SLBN Bekasi

Avatar photo

Pemerintah Pusat terus mendorong penguatan pendidikan inklusif di Indonesia dengan terus meningkatkan sarana belajar lebih layak, aman. Serta ramah bagi seluruh peserta didik, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.

Adapun bentuk nyata dari upaya tersebut yaitu dengan menggelontorkan program revitalisasi dan pembangunan ruang belajar. Yang saat ini manfaatnya mulai dirasakan sejumlah sekolah, seperti Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kabupaten Bekasi.

Kepala Sekolah SLBN Kabupaten Bekasi, Kartini, mengatakan revitalisasi dan pembangunan ruang belajar mulai menghadirkan dampak nyata. Tidak hanya memperbaiki kualitas bangunan sekolah, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, aksesibilitas, serta semangat belajar siswa berkebutuhan khusus.

“Tadinya kan sekolah ini didirikan dari 2012, gedung-gedungnya sudah usang, ruang kelasnya juga kurang nyaman untuk anak-anak. Dengan adanya bantuan ini anak-anak lebih bersemangat belajarnya karena sekolahnya sudah rapi, bersih, pencahayaan bagus begitu juga aksesibilitasnya,” katanya, Selasar, 26 Mei 2026.

Kartini menjelaskan, revitalisasi dari pemerintah pusat mencakup 10 ruang dan fasilitas pembelajaran. Yang itu meliputi rehabilitasi ruang kelas, aula, Ruang Pembelajaran Khusus (RPK), toilet, hingga selasar sekolah.

Sementara itu, pada 2025 sekolah juga menerima manfaat pembangunan 10 Ruang Kelas Baru (RKB) dari Pemerintah Daerah Jawa Barat. Terdiri atas 8 ruang kelas dan 2 ruang vokasi.

Ia mengatakan, bantuan revitalisasi senilai sekitar Rp1,7 miliar itu dikerjakan sejak Agustus hingga Desember. Dan telah selesai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Dengan tambahan tersebut, sekolah kini memperoleh penguatan sarana belajar sebanyak 20 ruang. Yang merupakan hasil revitalisasi dan pembangunan baru.

“Manfaat revitalisasi sangat besar mengingat sekolah yang berdiri sejak 2012 tersebut sebelumnya mengalami kerusakan pada sejumlah bangunan. Serta keterbatasan kenyamanan ruang belajar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Pembangunan Revitalisasi sekaligus perwakilan orang tua murid, Margiono menilai revitalisasi membawa perubahan yang sangat terasa. Terutama pada fasilitas pembelajaran dan sanitasi sekolah.

Ia menyebut sebelum revitalisasi dilakukan, beberapa bangunan dan ruang pembelajaran khusus mengalami kerusakan cukup berat. Akibatnya hal itu kurang nyaman digunakan siswa.

“Jelas ada perbedaan, dulu bangunan banyak kerusakan, terutama ruang pembelajaran khusus, kerusakannya cukup tinggi. Sekarang kondisinya lebih baik, toilet juga lebih bersih dan nyaman dipakai,” katanya.

Pihaknya berharap program revitalisasi pendidikan seperti ini dapat terus dilanjutkan secara berkelanjutan. Pasalnya kebutuhan layanan pendidikan khusus terus meningkat.

“Kalau bisa program seperti ini terus ada karena sekolah ini akan terus dipakai. Dan kebutuhan masyarakat terhadap sekolah khusus juga semakin meningkat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *