Berita  

Nuroji Imbau Peserta PBI Nonaktif Segera Melakukan Perbaikan Data

Avatar photo
Anggota Komisi IX DPR RI, Nuroji saat melakukan sosialisasi JKN-KIS di Kota Bekasi.

Anggota Komisi IX DPR RI, Nuroji menghimbau peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN yang berstatus nonaktif melakukan perbaikan data. Hal ini perlu dilakukan untuk mengaktifkan kembali status kepesertaan BPJS PBI.

Menurutnya, perbaikan data bisa dilakukan di Kantor Kelurahan atau Dinas Sosial setempat. Tentunya dilengkapi dengan data-data pendukung yang menunjukkan yang bersangkutan layak menjadi peserta BPJS PBI.

Ia menjelaskan, selama yang bersangkutan memenuhi kriteria, maka status kepesertaan BPJS PBI meraka akan segera aktif. Begitu juga sebaliknya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik jika status kepesertaan BPJS PBI dinonaktifkan. Sebab status nonaktif terjadi karena pemerintah dalam hal ini Kemensos tengah melakukan perbaikan data.

“Pemerintah ini sedang melakukan perbaikan data, maka dari itu mereka melakukan penonaktifan. Jadi jangan panik, tinggal datang ke kantor kelurahan atau Dinas Sosial lakukan perbaikan data tentu dengan data pendukung,” katanya, saat menggelar sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Kota Bekasi, Kamis, 5 Maret 2026.

Nuroji juga mengatakan, perbaikan data penting untuk memastikan BPJS PBI tepat sasaran. Sebab progam ini banyak dinikmati oleh orang yang tidak memenuhi kriteria sebagai penerima.

Pihaknya juga mengingatkan, agar masyarakat yang memang tidak memenuhi kriteria sebagai peserta BPJS PBI bisa mawas diri. Dalam arti tidak memaksakan untuk menjadi peserta PBI.

“Warga yang ekonominya mampu ini kan tidak masuk kriteria penerima PBI jadi jangan memaksa jadi peserta. Silahkan menjadi peserta dengan iuran, biarkan PBI ini diberikan kepada yang berhak,” katanya.

Nuroji juga tidak menampik, bahwa penonaktifan kepesertaan BPJS PBI kurang disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Sehingga wajar jika penonaktifan kepesertaan BPJS PBI menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Memang sosialisasinya kurang, jadi sempat gaduh. Tapi sekarang masyarakat juga sudah mulai paham mengapa terjadi penonaktifan dan mereka juga tau cara mengaktifkan kembali,” ujarnya, mengakhiri pembicaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *