Sejumlah warung makanan di Kota Bekasi yang meniadakan sejumlah menu makanan berbahan daging sapi. Hal ini dilakukan lantaran para pedagang daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Bekasi tengah melakukan aksi mogok berjualan.
Salah seorang Pedagang Warteg di daerah Kayuringin, Kota Bekasi, Sodikun, mengatakan menu berbahan daging sapi dihilangkan sementara per hari ini. Sebab ia tidak bisa mendapatkan bahan baku untuk membuat menu-menu berbahan daging sapi.
Ia mengatakan, kemungkinan kondisi ini akan bertahap selama tiga hari kedepan. Sampai para pedagang daging di pasar kembali berjualan usai mogok berjualan.
Pihaknya menduga aksi mogok berjualan para pedagang dikarenakan adanya kenaikan harga daging sapi. Dari awalnya 130 ribu menjadi 140 ribu per kilogramnya.
“Hari ini sop daging sapi libur dulu, karena pedagangnya di pasar gak jualan. Katanya seh mereka demo karena harga daging tinggi,” katanya, saat diwawancarai Klik Bekasi, Kamis, 22 Januari 2026.
Beruntungnya meski tak bisa menjual menu makan berbahan daging sapi, ia masih bisa menjual menu lain. Seperti sayur, ikan dan aneka menu lainnya yang juga digemari pelanggannya.
“Gak semua pelanggan makannya daging kan ada menu lainnya juga. Ada sayur, ayam, ikan dan goreng-gorengan juga laku,” katanya.
Salah seorang supplier daging, Yanto Kamto mengatakan, sudah hampir sebulan tidak menyuplai daging ke pasar. Hal ini imbas harga daging yang tinggi sehingga pedagang-pedang di pasar banyak yang tidak kuat membeli.
“Harganya itu sudah tinggi, jadi pedagang juga banyak yang kuat membeli. Pedagang takut dagangan mereka gak laku dan gak bisa untuk membeli daging lagi untuk dijual,” katanya.
Ia mengatakan, salah satu penyebab utama harga daging tinggi karena terbatasnya kuota sapi impor. Sedangkan kebutuhan konsumsi daging masyarakat Indonesia banyak dipenuhi dengan
“Salah satu sebabnya ini kuota daging impor terbatas, jadi stok daging sedikit dan ini yang membuat harga naik. Terus dolar jugakan sedang mahal, otomatis itu juga mempengaruhi harga,” ujarnya.






