3 Tips Mengelola Keuangan Pribadi untuk Berinvestasi Kecil-kecilan

Memiliki usaha atau bisnis mungkin menjadi impian sebagian orang dalam rencana keuangan pribadinya. Memang sudah terbukti, memiliki usaha adalah cara paling jitu untuk menambah pendapatan—apalagi bagi para pekerja yang membutuhkan dana lebih untuk mengatasi pengeluaran rumah tangga yang besar.

“Usaha atau bisnis termasuk salah satu alternatif dalam berinvestasi,” kata konsultan keuangan Prita Hapsari Ghozie, seperti dimuat di blog pribadinya.

Jika investasimu berhasil, maka inilah yang sering dikatakan orang: uang akan bekerja untuk kamu. Bukan tidak mungkin, dari awalnya kecil-kecilan—-karena kamu pintar membaca peluang dan konsisten— investasi kamu bisa tumbuh besar serta menjadi sumber pendapatan yang berkali-kali lipat dari gaji utama kamu.

Lalu, bagaimana caranya? Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kamu lakukan untuk berinvestasi dalam bisnis:

1. Menjadi Pemodal dengan Menanam Saham

Cara yang pertama, kamu bisa menamam saham atau modal di bisnis orang lain yang akan berjalan atau sudah berjalan.

Dalam hal ini, sebagai investor, kamu akan bertindak sebagai silent partner dan tidak langsung menjalankan operasional usaha. Kamu berhak mendapatkan bagi hasil atau dividen apabila ada keuntungan usaha. Tentu saja, dividen akan dibagi sesuai dengan porsi kepemilikan saham kamu di usaha tersebut.

Keuntungan menjadi pemegang saham adalah, kamu akan menikmati potensi keuntungan lebih besar apabila usaha berkembang dan terus maju.

Modal Rp100 juta, misalnya, dapat berkembang menjadi Rp150 juta apabila modal usaha terus bertambah seiring perjalanan usaha. Sayangnya, sebagai pemodal saham, kamu tidak berhak menentukan jangka waktu jatuh tempo pembayaran dividen.

Apabila kamu ingin melepaskan saham, maka investor pengganti harus dicari agar dana dapat dialihkan.

2. Menjadi Pemodal Pembiayaan atau Pinjaman

Sebagai pemberi pinjaman, kamu sebagai investor berhak mendapatkan kepastian pembayaran modal pokok beserta tambahan bagi hasilnya atau dikenal juga dengan bunga pembiayaan. Jika kamu menggunakan sistem permodalan syariah, maka istilah keuntungannya bukan bunga, melainkan bagi hasil.

Durasi pinjaman harus ditentukan di awal periode, dan investor berhak mendapatkan kembali seluruh modal yang dipinjam saat jatuh tempo.

Keuntungan yang didapat investor adalah kepastian bahwa pinjaman akan dibayarkan. Namun, pahami juga apabila kamu gagal melakukan analisa kelayakan usaha, tetap ada risiko bahwa usaha tidak mampu mengembalikan modal awal pinjaman.

Oleh sebab itu, ada baiknya saat melakukan perjanjian pembiayaan, investor mensyaratkan adanya agunan yang dapat dieksekusi apabila pembayaran tidak dapat berjalan sesuai yang ditetapkan.

Untuk opsi investasi dengan menjadi pemodal pembiayaan, saat ini ada beberapa perusahaan start-up fintech di bidang penawaran kredit yang memperkenalkan konsep peer to peer lending.

Merujuk pada kamus di situs investopedia, peer to peer lending adalah metode pembiayaan kredit yang memungkinkan masyarakat untuk pinjam-meminjam uang tanpa perantara resmi dari industri keuangan sebagai perantara. Namun, di Indonesia, aktivitas keuangan dalam industri fintech telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Fintech peer to peer lending berperan sebagai perantara antara peminjam (debitur) dan investor sebagai pemberi pinjaman (kreditur). Sebagai perantara, pihak fintech akan mempertemukan kreditur dan debitur di dalam platform website dan juga memberikan analisis risiko kredit atas profil calon debitur kepada kreditur demi mengurangi risiko kredit atas dana yang dipinjamkan.

Dengan kata lain, mereka menjadi marketplace antara penyalur dana dan peminjam dana. Mesi demikian, pahami bahwa risiko investasi tetap ada.

3. Menjadi Pemodal bagi Usaha Sendiri

Selain menjadi pemodal saham maupun menjadi pemodal pembiayaan, untuk memiliki investasi di usaha tentu saja dapat dilakukan dengan jalur kewirausahaan.

Jalur ini mensyaratkan kamu—sebagai investor—untuk membangun usaha sendiri dari nol. Pada umumnya, kamu juga akan terlibat langsung dalam mengelola usaha.

Sebagai bagian dari pengelola usaha, kamu seharusnya juga mendapatkan gaji selayaknya karyawan—pastikan hal ini sudah kamu hitung dalam biaya produksi. Nah, seperti berinvestasi pada bisnis orang lain, maka kamu pun akan mendapatkan bagi hasil bilamana ada keuntungan usaha. Kamu juga bisa menggandeng pihak lain untuk berinvestasi pada bisnismu.

Agar bisnis kamu lancar, pastikan kamu selalu meningkatkan kemampuan berwirausaha: manajemen produksi, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran.

Pilihlah jenis usaja yang sesuai dengan minat kamu. Selalu antisipasi risiko yang terjadi dalam bisnis.

Mau Pilih yang Mana?

Seorang calon investor yang saat ini berstatus sebagai karyawan sebenarnya lebih mudah untuk memiliki usaha dengan jalan investasi secara langsung—opsi nomor 1 dan 2.

Dengan waktu yang terbatas, maka menanamkan modal pada usaha yang sudah berjalan menjadi opsi yang bijak. Pahami bahwa analisa kelayakan usaha tetap dihitung agar risiko buruk dapat dikurangi di masa depan.

Sedangkan untuk calon investor yang ingin beralih profesi atau pun ingin tetap memiliki kesibukan di masa pensiun, maka berwirausaha merupakan opsi yang menarik—opsi nomor 3.

Itulah ulasan beberapa cara berinvestasi dalam bisnis. Semoga bermanfaat ya!


* Referensi: pritaghozie.com

* Foto: Ilustrasi (Unsplash)

Tinggalkan komentar