7 Tips Psikologi Atur Uang yang (Pasti) Mengubah Mindset Kamu

Mengelola keuangan pribadi tidak hanya membutuhkan keterampilan secara teknis soal uang. Faktor psikologis—seperti kebiasaan dan pola pikir—juga sangat berpengaruh dalam keputusan finansial kamu.

Buku The Psychology of Money karya Morgan Housel memberikan wawasan menarik tentang uang dari sisi psikologi—dipadukan dengan prinsip dasar dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Secara umum, psikologi uang adalah ilmu yang mempelajari hubungan kita dengan uang. Berikut beberapa tips psikologi yang bisa mengubah pola pikir kamu tentang uang:

1. Pikirkanlah Uang secara Objektif

Karena faktor pengalaman pribadi—mungkin dipengaruhi lingkungan atau keluarga—setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang uang.

Untuk itu, kamu perlu berpikir objektif dalam mengambil keputusan finansial. Pelajari berbagai literasi tentang cara mengelola keuangan pribadi dengan baik, termasuk mengetahui perkembangan atau tren keuangan.

Hal umum yang perlu dipelajari dalam mengelola keuangan pribadi, misalnya, membuat anggaran bulanan, melacak pengeluaran, menghemat uang, menabung, investasi, memilih asuransi, membuat tujuan keuangan, dan sebagainya.

2. Ikuti Pola Sukses, Bukan Orang Sukses

Mungkin kamu sering membaca cerita inspiratif tentang orang sukses. Cara terbaik untuk mengambil pelajaran dari kesuksesan orang adalah mengetahui polanya.

Beberapa pola kesuksesan antara lain bekerja keras, memiliki tujuan, pantang menyerah, tetap rendah hati, hidup sederhana, menjaga integritas, profesional, dan sebagainya.

Mengapa? Karena, dalam perjalanan kesuksesan seseorang, ada faktor risiko dan keberuntungan—dan setiap orang punya risiko dan keberuntungan yang berbeda-beda. Kedua hal inilah yang biasanya akan membuat seseorang tetap rendah hati saat mencapai kesuksesan.

Bill Gates—pendiri Microsoft—misalnya, merasa beruntung karena ia belajar di SMA yang memiliki komputer—di mana pada saat itu hampir semua sekolah tidak punya komputer, perbandingannya 1 banding 1 juta. Gates memiliki sahabat di sekolah bernama Paul Allen dan Kent Evans—yang sama pintarnya. Sayang, Evans meninggal saat mendaki gunung sebelum lulus SMA. Seandainya Evans tidak mengalami risiko kecelakaaan itu, mungkin ia sudah beruntung ikut mendirikan Microsoft bersama kedua sahabatnya: Gates dan Allen.

3. Belajarlah untuk Mengatakan Cukup

Ada banyak orang kaya yang kehilangan segalanya karena mereka merasa uang jutaan yang mereka miliki belum cukup—biasanya dipicu perbandingan sosial.

Pelajaran yang dapat kita petik dari kegagalan-kegagalan ini adalah kita tidak boleh mempertaruhkan ‘apa yang kita miliki dan kita butuhkan’ untuk ‘apa yang tidak kita miliki dan tidak kita perlukan’.

Cukup bukan berarti kita berhenti mengejar kesuksesan finansial. Cukup artinya kita tahu kapan harus menghindari melakukan sesuatu yang bisa membuat kita menyesal di kemudian hari. Jangan sampai hanya karena ‘tidak cukup’, kamu mengorbankan kebahagiaanmu.

4. Kata Kuncinya adalah Bertahan Hidup

Kesuksesan finansial sebenarnya bisa diringkas dengan satu kata kunci: bertahan hidup, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Maka, dalam mengelola uang, sebaiknya kita fokus pada ketahanan finansial jangka panjang.

Misalnya, dalam berbisnis atau investasi, mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat memang menggiurkan. Namun, untuk bertahan hidup, pilihlan jalan yang menguntungkan dalam waktu lama—meskipun itu bertahap.

Warren Buffett, investor terkemuka Amerika Serikat—yang terkenal karena nasihat keuangannya yang bijak—selalu menganjurkan investasi yang bersifat jangka panjang. Buffett mengilustrasikan, kesuksesan ibarat pohon rindang yang ditanam sejak lama oleh orang yang berteduh di bawahnya.

5. Hargailah Waktu, Sebab Kekayaan Terbesar adalah Kebebasan

Bentuk kekayaan tertinggi adalah kemampuan untuk bangun setiap pagi dan berkata, “Saya bisa melakukan apa pun yang saya mau, kapan pun saya mau, dengan siapa pun yang saya mau, selama saya mau.”

Nilai intrinsik (tersembunyi) terbesar uang adalah kemampuannya memberi kamu kendali atas waktu kamu.

Ini lebih dari gaji kamu, lebih dari ukuran rumah kamu, lebih dari gengsi pekerjaan kamu, lebih dari segalanya. Ini adalah dividen tertinggi yang dibayarkan oleh uang kepada kamu.

Untuk itu, aturlah waktu kamu sebaik mungkin. Jangan sampai uang justru menghilangkan waktu kamu untuk hal lain yang juga penting dalam hidup.

6. Jangan Mengandalkan Uang Agar Kamu Dihormati Orang

Jika kamu berpikir bahwa uang akan membuat kamu dihormati atau disegani orang lain, berhentilah segera. Itu sama saja kamu tidak menghargai diri kamu sendiri sebagai manusia.

Misalnya, jika kamu memiliki mobil atau rumah mewah—atau apa pun yang menunjukkan kehebatan—orang mungkin menghormati kamu. Tapi, sebenarnya, orang menghormati kamu karena uang yang kamu miliki—bukan karena kepribadian kamu.

Jika rasa hormat dan kekaguman adalah tujuan kamu, berhati-hatilah dalam mencarinya. Kerendahan hati, kebaikan, dan empati akan membuat kamu lebih dihormati daripada mengandalkan uang.

7. Ketahuilah Perbedaan Kaya dan Kekayaan

Kaya adalah apa yang orang lain lihat dari diri kamu saat ini: rumah, mobil, barang-barang mewah, dan sebagainya.

Tapi, kekayaan adalah hal yang tidak terlihat: menunda keinginan, menghindari utang, menabung, berinvestasi, dan lainnya.

Sederhananya, kaya adalah apa yang bisa kamu beli sekarang. Sedangkan kekayaan adalah apa yang bisa kamu simpan—atau kaya dalam jangka waktu lama.

Tidak mengetahui kaya dan kekayaan adalah sumber dari banyak keputusan buruk dalam hal keuangan.

Itulah ulasan tentang tips psikologi yang bisa mengubah pola pikir kamu tentang uang. Semoga bermanfaat ya!


* Referensi: Linkedin.com / Tanvir AS

* Foto: Ilustrasi (Unsplash)

Tinggalkan komentar