Abdul Rozak, Anggota Dewan Kota Bekasi yang Pantang Basa-basi – Klik Bekasi
Connect with us
BEKASI WEATHER

Abdul Rozak, Anggota Dewan Kota Bekasi yang Pantang Basa-basi

Sosok

Abdul Rozak, Anggota Dewan Kota Bekasi yang Pantang Basa-basi

Abdul Rozak, Anggota Dewan Kota Bekasi yang Pantang Basa-basi

“Hidup di jalanan keras gak kenal kata basa-basi. Dulu setiap hari itu hari-hari saya lewati dengan berkelahi. Pilihannya kita nyerang duluan atau nunggu diserang. Yang seperti itu pernah saya lewati.”

Anggota DPRD Kota Bekasi, Abdul Rozak belakangan ramai jadi buah bibir di lingkungan Pemerintahan Kota Bekasi. Ia menjadi sorotan karena sepak terjangnya sebagai Ketua Komisi I DPRD Kota Bekasi yang tak kenal basa-basi.

Akibat sikapnya yang tak kenal kompromi, sejumlah pejabat yang menjadi mitra kerja Komisi I DPRD Kota Bekasi bahkan ngeri-ngeri sedap terhadapnya. Imbasnya, setiap diundang rapat, para pejabat mau tak mau harus hadir.

Bahkan, pejabat selevel Sekretaris Daerah (Sekda) saja tak kuasa menolak undangan rapat bersama Komisi I DPRD Kota Bekasi.

Abdul Rozak menerima aspirasi masyarakat di Sekretariat Forum Warga Bekasi (FWB)

“Sekda itu biasanya datang kalau rapat sama pimpinan dewan atau badan anggaran. Tapi kemarin kita panggil datang juga. Bahkan dua jam sebelum rapat dia sudah hadir di ruangan komisi,” kata Pria yang akrab disapa Bang Jek, tersebut.

Kebersamaan Abdul Rozak dengan konstituen saat kegiatan wisata.

Bukan tanpa alasan ia bersikap tegas. Ia berlaku demikian untuk menjaga marwah lembaga dewan yang mulai pudar.

“Sebagai anggota dewan dan juga pimpinan komisi tentu saya punya tanggung jawab menjaga marwah lembaga dewan. Jangan sampai marwah itu hilang,” kata dia.

Ia sadar, sikap tak kenal komprominya itu memunculkan pro dan kontra. Ada yang mendukung ada pula yang tak suka. Tapi dirinya tak mau ambil pusing soal itu.

Abdul Rozak bersama konstituen

“Saya gak peduli orang gak suka dan ngomongin saya di belakang. Yang penting bagaimana saya kerja dengan baik untuk masyarakat,” kata dia.

Besar di jalanan

Sikap pantang basa-basi seorang Abdul Rozak sejatinya merupakan karakter asli pria kelahiran Bekasi, 6 September 1978, itu.

Karakter demikian kata dia, tercipta karena perjalanan hidup seorang Abdul Rozak yang terbiasa hidup di jalanan.

Ia mengenal jalanan sejak masih remaja. Di jalanan, ia bersinggungan dengan berbagai macam karakter orang. Bahkan berkelahi sudah menjadi santapan ia sehari-hari waktu masih berusia muda. Di jalanan pula, ia mengenal prinsip tak kenal kompromi.

“Hidup di jalanan keras gak kenal kata basa-basi. Dulu setiap hari itu hari-hari saya lewati dengan berkelahi. Pilihannya kita nyerang duluan atau nunggu diserang. Yang seperti itu pernah saya lewati,” kenang dia.

Abdul Rozak bersama Istri, Nurhayati

Dirinya juga bercerita, pernah merengkuh masa kejayaan saat masih berkecimpung di jalanan. Popularitas, kehormatan, uang dan fasilitas pernah ia gapai.

“Saya pernah menikmati masa-masa jaya pada tahun 90an. Saya mulai punya nama dan diakui,” kata dia.

Memiliki segalanya, membuat dirinya tak pernah punya niat untuk berhenti dari kehidupan jalanan. Sampai pada akhirnya pertemuanya dengan Nurhayati, perempuan yang kini menjadi istrnya membuat Jek memilih untuk gantung golok alias berhenti dari kehidupan jalanan yang membesarkannya.

“Saya gantung golok itu setelah menikah. Padahal dulu gak kepikiran sama sekali buat nikah,” canda Jek.

Abdul Rozak bersama putra dan putrinya

Bersama Nurhayati, Abdul Rozak dikaruniai empat orang buah hati. Yakni Raden Patah, Raden Saleh, Ratu Ivana dan Radhen Ramadhan.

Berbuat untuk masyarakat

Pilihan untuk menggantung golok tidak lantas membuat reputasi Abdul Rozak pudar. Bahkan, namanya justru kian berkibar baik di Kota Bekasi maupun Kabupaten Bekasi.

Sosok Jek yang disegani serta pengalamannya di jalanan membuat banyak orang datang meminta pertolongan kepadanya.

“Saya mulai turun untuk melakukan advokasi dan pendampingan warga. Bahkan kerap diminta tolong untuk memediasi konflik,” kata dia.

Dari sekadar diminta tolong, Jek pada akhirnya memilih aktif di jalur advokasi atau pendampingan masyarakat.

Jek lantas mendirikan organisasi bernama Forum Warga Bekasi (FWB). Lewat FWB inilah, ia bergerak membela kepentingan masyarakat.

FWB menurutnya, punya 15 cabang, terdiri dari 8 cabang di Kota Bekasi dan 7 cabang di Kabupaten Bekasi. Total ada 3.000 anggota di mana 1.000 orang merupakan anggota aktif.

 Abdul Rozak bersama anggota Forum Warga Bekasi (FWB), ormas yang didirikannya. 

Menempuh jalur advokasi bukan perakara mudah menurutnya, sebab tak jarang untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat ia harus berusan dengan banyak pihak.

“Bentrok dengan aparat, teman-teman ormas dan juga diintimidasi itu sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi saya tetap maju terus selama itu untuk kebenaran,” ujarnya.

Di lingkungan tempat tingglnya yakni di RW 09 Kelurahan Margahayu, warga juga memintanya untuk menjadi ketua RW. Ia juga didaulat menjadi Ketua Forum RW Kelurahan Margahayu.

Panggilan hati

Sekian lama berkecimpung dalam urusan advokasi masyarakat, Jek terpanggil untuk bisa berbuat lebih baik. Ia lantas memutuskan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.

Dengan menjadi anggota dewan, ia berkeyakinan akan bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat luas.

Maka dari itu pada Pileg 2014 ia maju mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Sayang, nasib belum berpihak kepadanya. Barulah pada Pileg 2019 ia berhasil lolos menjadi anggota DPRD Kota Bekasi periode 2019-2024.

“Saya melihat negara ini perlu perbaikan, maka saya tergerak untuk ikut ambil bagian. Prinsip saya Hubbul Wathan Minal Iman artinya cinta tanah air sebagain dari Iman. Dari situ saya merasa terpanggil,” kata dia.

Abdul Rozak bersama Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhyono

Padahal sebelumnya, ia tidak terlalu berminat dalam politik. Bahkan sebagai generasi awal Partai Demokrat di Kota Bekasi, ia baru memilih maju mencalonkan diri menjadi anggota legislatif pada tahun 2014.

“Saya ini di Demokrat dari 2003. Kalau saya mau, saya nyalon pas Demokrat sedang jaya-jayanya. Tapi waktu itu saya belum tergerak. Baru di 2014 karena permintaan masyarakat dan keinginan untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat akhirnya saya memutuskan diri untuk maju,” tandasnya.

Ia berharap bisa terus konsisten membela kepentingan masyarakat selama menjadi anggota dewan.

“Mudah-mudahan saya bisa tetap istiqomah berjuang membela kepentingan masyarakat selama menjabat anggota dewan,” pungkas Sekretaris DPC Demokrat Kota Bekasi, tersebut.(Ical)

1 Comment

1 Comment

  1. Lala Hartono

    Rabu, 19 Februari 2020 at 07:44

    Sukses terus pa dewan Abdul Rozak…pendukung militan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok

To Top