Berawal dari FB, Kisah Inspiratif Tri Amelia dan ‘Gosok Keliling’ Menyebar – Klik Bekasi

Berawal dari FB, Kisah Inspiratif Tri Amelia dan ‘Gosok Keliling’ Menyebar

Tri Amelia (31) dan Irsan Heryadi (33) tidak menyangka usaha ‘Gosok Keliling’ yang dijalaninya tiba-tiba dibicarakan begitu banyak orang–bahkan dalam waktu beberapa jam saja.

Pasangan suami-istri yang tinggal di Perumahan Villa Mutiara Gading 3 Blok H3/6 Rt 02 Rw 18, Desa Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, itu kini kebanjiran tamu.

Para pewarta datang silih berganti ke rumah Tri Amelia dan Isran untuk meliput kisah inspiratif mereka. Nah, bagaimana awal mula ‘getok-tular’ itu terjadi?

Adalah Yuni Tri, seorang pengguna Facebook yang sama sekali tidak berteman di jejaring sosial karya Mark Zuckerberg itu dengan Tri Amelia dan Isran.

Pada Sabtu sore, 20 Februari 2016, pukul 17.02, Yuni menulis status sembari mengunggah foto Tri Amelia sedang menyetrika di atas motor bebek yang telah dimodifikasi.

“Setrika keliling” Semangat berbalut kreatifitas, smg Allah merahmatimu bunda…,” tulis Yuni singkat.

yuni-facebook

Status Yuni kemudian disukai, dikomentari dan dibagikan oleh teman-temannya. Terus dan terus hingga mencapai 10 ribu lebih orang membagikan status itu.

Keesokan harinya, Yuni kaget bukan kepalang ketika kembali membuka Facebook. Ia kemudian menuliskan keheranannya itu dalam bentuk status.

“Baru buka FB lagi. Lihat postinganku kemarin tentang seorang bunda, Tri Amelia, yang menawarkan jasa setrika keliling. Masya Allah, yang ngelike hampir 13 ribuan!

Karena yang dilakukan memang inspiratif, kreatif dan inovatif. So… Selalu terbuka jalan asal mau mengusahakan. Sukses selalu Bunda Tri Amelia.”

Sehari berikutnya, Senin, 22 Februari 2016, pukul 10.19, Yuni belum juga beranjak dari rasa takjubnya. Ia menulis status lagi.

“Tadinya cuma share gambar aktifitas kreatif, inovatif dan solutif dari Bunda Tri Amelia. Jadilah puluhan ribu like dan banyak inbox yang tanya tentang siapa dia, daerah mana?

Ada juga sebuah organisasi masyarakat yang ingin mengembangkan konsep tersebut.

Awalnya saya juga belum berteman dengan Bunda Tri Amelia. Sekarang beliau kebanjiran permintaan pertemanan.Dan tak ada yang kebetulan. Semua ada dalam genggaman skenario-Nya.

Semoga sukses selalu ya Bunda Tri Amelia.”

Menengok Facebook Tri Amelia

Pada hari yang sama, Sabtu, 20 Februari 2016, pukul 13.10, Tri Amelia menulis status sembari mengunggah dua buah foto.

Status Tri Amelia sangat sederhana. “Bisa gantian sama Misuaqu (suamiku).”

facebook-tri-amelia

Satu dari dua fotonya ternyata sama dengan yang dibagikan Yuni. Rupanya, dari teman ke teman, foto itu sampailah ke tangan Yuni dan segera dibagikan ulang pada sore harinya.

Hari itu, uniknya, status Tri Amelia tidak seheboh status Yuni.

Pukul 19.01, Tri Amelia kembali menulis status. Ia semacam curhat.

“Keliling kemarin kok iseng, ngecek-ngecek meteran motor dari awal muter sampai kerjaan kelar. Karena bolak-balik dan belok-belok, sampailah 43 km.

Nah, itu kalau lurus jalannya sudah sampai mana ya?”

Sampai di sini, Tri Amelia belum menyadari jika ia sedang dibicarakan orang. Hingga dua hari berikutnya, seperti yang dialami Yuni, ia terkaget-kaget.

Senin, 22 Februari 2016, pukul 6.26, Tri Amelia menulis status.

“Yang minta pertemanan 430 orang. Ya Allah banyak banget, ya. Mohon maaf belum bisa langsung dikonfirm. Masih rempong. Mugi Barokah buat teman-teman juga.”

Pukul 8.32, ia kembali menulis status.

“965 permintaan ternyata. Belum bisa discrenshoot. Masya Allah.”

Pada Rabu, 24 Februari 2016, pukul 14.32, ia menceritakan tentang banyaknya pewarta yang datang ke rumahnya.

“Masya Allah. Semua media meliput ke rumah. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan kepada kami. Terima kasih yang sudah kasih likenya dan sudah berkenan share.”

Muncul dalam berita-berita

Kisah inspiratif Tri Amelia dan Irsan kini diulas di sejumlah media online–dan tentunya masuk media cetak dan elektronik.

Tri Amelia dan Irsan menceritakan jatuh-bangunnya membangun usaha yang dirintis sejak 2013 itu. Kini, mereka bisa memperoleh omzet Rp 9 juta per bulan.

Ide usaha Gosok Keliling–atau diakronimkan menjadi GoKil–muncul saat Irsan tak sengaja melihat alat setrika dan mesin uap terbengkalai.

Alat itu teronggok di rumah sejak usaha laundry (pencucian baju) miliknya tak berkembang.

Karena itu, Irsan yang bekerja di pabrik otomotif di kawasan Cibitung, Kabupaten Bekasi, ini berinovasi untuk mengubahnya menjadi alat setrika keliling.

Dari situ, Irsan kemudian mencoba membuat boks sekadarnya dari bahan kayu. Boks itu kemudian disematkan di bangku belakang sepeda motor Honda Revo milik istrinya.

Di dalam boks itu terdapat sejumlah alat yang diperlukan untuk bisnisnya, yaitu setrika uap beserta selangnya, tabung gas 3 kilogram beserta kompornya, dan sebuah panci.

Cara kerja alat GoKil ini cukup sederhana. Dua ujung selang ia sematkan ke alat setrika uap dan tutup panci. Setelah alat itu terpasang, Irsan kemudian memasak air di dalam boks.

Ketika air itu mendidih, hawa panas beserta uapnya dari panci itu akan pindah ke alat setrika.

“Model seperti ini memang sudah diterapkan oleh pengusaha laundry untuk menggosok pakaian konsumennya,” ujar Irsan seperti dikutip Kompas.

Setelah alat itu terpasang, sang istri, Tri, berkeliling perumahan sambil membunyikan klakson motor sebagai tanda sedang menjajakan jasa GoKil.

Awalnya, tak ada satu pun pelanggan yang menggunakan jasanya. Meskipun begitu, Tri tidak lantas patah semangat.

Ia lalu menyebarkan informasi terkait usahanya ini melalui brosur. Akan tetapi, dua bulan berselang, tak ada juga pelanggan yang menelepon untuk memakai jasanya.

Beruntung, pada bulan ketiga, mulai ada satu pelanggan yang menghubungi untuk menggunakan jasanya.

Dari situ, jasa GoKil kian menyebar lewat mulut ke mulut. Saking senangnya, setiap hari, Tri berkeliling perumahan dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00.

Kemudian, ia melanjutkan usahanya itu pada pukul 15.00 sampai pukul 17.00. Hingga bulan keenam, Tri sudah bisa mempekerjakan satu karyawan.

Satu karyawannya itu bertugas menggosok pakaian di rumahnya. “Selain jasa GoKil, saya juga buka usaha gosok di rumah. Kalau banyak order, biasanya saya bawa pulang ke rumah,” katanya.

Lambat laun, rupanya usaha jasa Gokil miliknya kian berkembang. Bahkan kini dia telah mempekerjakan lima pegawai.

Empat di antaranya bertugas menggosok pakaian dan satu orang melakukan pengepakan.

Dalam sehari, ia mampu melayani 240 kilogram pakaian dengan tarif Rp 3.500 per kilogram. Kecuali untuk jarak jauh, ia mematok tarif Rp 4.000 per kilogram.

“Cuma enggak ada kurir aja, jadi terpaksa saya sendiri yang mengantarkan pakaiannya,” katanya.

Dengan uniknya usaha mereka, Tri berharap hal ini dapat menjadi inspirasi bagi ibu-ibu rumah tangga lainnya untuk bisa berwirausaha.

“Ibu-ibu rumah tangga yang punya anak juga bisa membuat usaha,” ucapnya.

Begitulah seklumit cerita tentang Tri Amelia, Irsan dan usaha Gosok Kelilingnya. (Res)