Siapa di Balik Hoax Beras Plastik Bekasi – Klik Bekasi

Siapa di Balik Hoax Beras Plastik Bekasi

Isu beras plastik yang menghebohkan Indonesia bermula dari Kota Bekasi. Seorang bernama bernama Dewi Septiani (29) mengklaim telah menemukan ‘beras palsu’ yang dibelinya dari pedagang beras langgananya.

Bagaimana informasi itu bisa mewabah begitu cepat?

Dewi Septiani merupakan pedagang warung nasi uduk dan bubur ayam di Ruko GT Grande, Blok F 19 Nomor 37, RT 01/RW 23, Perumahan Mutiara Gading Timur, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Pada 18 Mei 2015 pagi, Dewi mengunggah sebuah foto di Instagram dengan keterangan yang sangat mengejutkan:

“BERAS PALSU” Pagi ini… tepatnya tgl 18 Mei 2015 saya mendapati beras yang sudah dibeli adalah beras palsu. Ketika saya memasak untuk membuat bubur dan nasi uduk (kok beda ya??) Tidak seperti beras sebelumnya… padahal saya beli di harga Rp8.000,- dan di tempat langganan saya.”

Foto tersebut kemudian langsung disambut oleh akun milik Radio Dakta, yang berkantor di Jalan Agus Salim Nomor 77, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Akun tersebut mencoba meminta nomor kontak Dewi.

Pada pagi itu juga, Radio Dakta berhasil mewawancarai Dewi secara eksluksif dalam program siaran Info Rekan Dakta. Seorang penyiar melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Dewi.

Dari wawancara tersebut, Dewi sudah memaparkan ciri-ciri beras palsu tersebut secara detail, seperti warna, bentuk dan baunya.

“Kalau biasa beras yang saya masak menjadi bubur hasilnya bagus menyatu semua dengan beras lainnya karena saya menggunakan beras pulen, tapi kali ini berasnya itu terpisah dengan air, hasilnya beras tersebut mengendap di bawah dan saat proses penghancuran pun berbeda, antara beras asli dan beras palsu, butirannya itu terlihat seperti plastik sintetis, saat saya pegang terasa sekali kasar kemudian harumnya itu berbeda.”

Hari itu, informasi begitu menyebar cepat. Hampir semua media online nasional memuat informasi yang sama seperti dikatakan Dewi di siaran Radio Dakta.

Sehari berikutnya, Selasa 19 Mei 2015, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bekasi langsung menyatakan beras tersebut akan diuji di Laboratorium PT Sucofindo, Cibitung, Kabupaten Bekasi, selama tiga hari ke depan.

Pemkot Bekasi segera mendatangi kios pedagang beras milik seorang bernama Sembiring di Pasar Pasar Mutiara Gading, Kecamatan Mustikajaya. Polsek Bantar Gebang juga menutup kios teresebut sementara.

Pada 21 Mei 2015, secara mengejutkan, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengumumkan hasil uji laboratorium.

“Dari hasil penelusuran kami dengan alat tersebut, ditemukan senyawa yang umumnya digunakan sebagai pelembut pipa atau kabel agar tidak kaku,” kata Rahmat.

Kehebohan terjadi usai Rahmat Effendi menggelar jumpa pers tersebut. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bahkan meminta kepolisian dan BIN mengusut tuntas.

Sampai di sini, informasi terpecah menjadi dua: satu sisi percaya adanya beras plastik, seperti yang disebut Pemkot Bekasi. Di sisi lain, para pakar membantah dengan argumen ilmiah.

Berikut argumenya;

Pertama: Harga plastik olahan paling murah adalah Rp 12 ribu per kilogram. Sedangkan rata-rata beras harganya Rp 7.500 per kilogram.

Kedua: Mesin produksi untuk membuat plastik menyerupai beras adalah mesin canggih yang tak mungkin dimiliki oleh usaha kecil menengah. Butuh investasi besar agar dapat memproduksinya dalam jumlah besar.

Ketiga: Plastik adalah turunan hidrokarbon – keluarga plastik keresek – adalah hidrofobik atau tidak suka air, karena bahan dasarnya adalah minyak bumi dan struktur kimianya nonpolar. Jika beras plastik dimasak dipastikan tidak dapat menjadi bubur, mereka hanya akan basah atau berwarna kecoklatan saja.

Keempat: Masa jenis plastik lebih kecil dari air. Suatu benda yang terbuat dari plastik akan mengambang di air. Terlebih bentuknya kecil. Tidak mungkin tenggelam dalam air.

Kelima: Titik didih plastik di atas 100 derajat celcius, hal ini menyebabkan bahan campuran lain yang digunakan untuk membuat beras plastik akan meleleh terlebih dahulu jika dipanaskan di atas suhu tersebut. Terlebih lagi jika bahan campuran tersebut berupa umbi-umbian.

“Mungkin ini ulah orang iseng,” kata Pakar Ekonomi Pertanian, Bustanul Arifin.

Penyelidikan Polisi

Penyelidikan terus dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memastikan apakah beras tersebut merupakan beras plastik atau bukan.

Sejumlah saksi diperiksa, seperti Kepala Disperindakop Kota Bekasi dan wartawan dari Radio Dakta. Polisi ingin mastikan awal informasi itu menyebar.

“Saya sudah melaksanakan tugas sebagai penyiar radio sesuai standar prosedur penyiaran,” kata produser Radio Dakta FM, Syifa Faradila, saat itu.

Pada Senin 2 November 2015, Polda Metro Jaya memastikan informasi keberadaan beras platik di Kota Bekasi hanyalah isapan jempol belaka atau hoax. Penyidik resmi menghentikan penyidikan.

Polisi telah memeriksa 33 saksi dan lima saksi ahli namun tidak ditemukan indikasi beras mengandung plastik. Oleh karena itu, Polda Metro Jaya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) pada 29 Oktober 2015.

Uji beras tersebut dilakukan peneliti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, serta ahli polimer dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT).

Seluruh lembaga penelitian tersebut menguji beras namun hasilnya menunjukkan beras itu asli atau tidak mengandung bahan sintetik. Bahkan penyidik Polda Metro Jaya mengambil contoh dan memeriksa beras dari sumber penggilingannya di Indramayu, Jawa Barat.

Siapa dalangnya?

Polisi saat ini menyelidiki pembuat dan penyebar isu soal beras plastik tersebut. Penyelidikan didasarkan laporan baru LP/652/VIII/2015/PMJ/Ditreskrimsus, tanggal 24 Agustus 2015.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Mujiyono menjelaskan, laporan tersebut merupakan Laporan Model A (pelaporan dari penyelidikan) polisi. Laporan dibuat karena penyebar isu tersebut telah menimbulkan kecemasan di masyarakat.

Kasubdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Adi Vivid mengatakan, pihaknya akan bekerja semaksimal mungkin untuk mengungkap siapa dalang di balik informasi lancung itu.

“Tunggu saja, masih pendalaman,” katanya. (Tim)