OPINI: Kurban dan Kerukunan Umat Beragama – Klik Bekasi
Connect with us
BEKASI WEATHER

OPINI: Kurban dan Kerukunan Umat Beragama

Ilustrasi/KLNFoto

Opini

OPINI: Kurban dan Kerukunan Umat Beragama

Ibadah kurban memiliki dua dimensi, pertama dimensi kesalehan pribadi dan kedua dimensi kesalehan sosial.

Pemerintah telah menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 24 September 2015 begitupun dengan beberapa negara-negara yang mayoritas beragama Islam. Ini artinya tinggal menghitung hari umat Islam diseluruh dunia termasuk Kota Bekasi akan merayakan hari raya Idul Adha atau biasa juga disebut hari Hari Raya Kurban. Para pedagang hewan kurban sudah mulai menggelar dagangannya dipinggir-pinggir jalan Kota Bekasi. Dengan penduduk 2,3 Juta dan pemeluk agama Islam kurang lebih 2 juta jiwa menjadikan Bekasi sebagai kota sasaran bagi para pedagang hewan kurban.

Adapun sisa dari penduduk Kota Bekasi memeluk agama Kristen, Katolik, Hindu. Budha dan Konghucu. Dengan begitu dalam konteks keragaman agama, Bekasi merupakan Kota yang sangat beragam, seluruh agama besar tumbuh di Kota Bekasi, belum lagi keragaman dari segi suku dan ras. Keragaman tersebut sesungguhnya kekuatan yang dimiliki Kota Bekasi.

Namun, faktanya dalam hubungan antarumat beragama masih pasang surut. Secara umum ketegangan antarumat beragama terkait dengan pembangunan rumah ibadah, seperti kasus pendirian Gereja Stanislaus Cosca di Kalamiring, HKBP Ciketing dan terbaru kasus Santa Clara, selain itu, konflik juga terkait dengan penistan ajaran agama dari kelompok tertentu dan perselisihan yang terjadi di internal pengurus rumah ibadah.

Dalam research yang dilakukan Ikaluin Bekasi Raya munculnya ketegangan tersebut diakibatkan diantaranya oleh pemahaman agama yang saklek, menganggap diri paling benar sehingga mudah untuk mengkafirkan mereka yang berada di luar. Untuk itu, dalam rangka membangun kerukunan, nalar eksklusif harus dilenturkan dengan cara kembali kepada prinsip tauhid.

Melalui semangat Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban diharapkan meneguhkan kembali fitrah manusia yang ingin selalu damai dalam hidup melalui kembali pada semangat ketundukan kepada Allah SWT seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dalam berkurban.
Yah, berbicara ibadah kurban pasti tidak bisa dilepaskan dari kisah heroik Nabi Ibrahim yang rela mengurbankan putra yang sangat dinanti kehadirannya demi ketaatan dan kepatuhannya pada perintah Allah SWT yang kemudian sebagai imbalan atas ketulusan, ketaatan dan kepatuhan Ibrahim tersebut Allah mengganti objek kurban dengan seekor Gibas.

Fondasi Bangunan Kerukunan

Sikap berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan itu menjadi inti dan hakikat dari milat Nabi Ibrahim. Cak Nur memberikan penjelasan yang angat apik tentang sikap kepatuhan. Menurutnya, sikap berserah diri kepada Allah mengandung konsekuensi bahwa Tuhanlah satu-satunya otoritas yang serba mutlak sementara wujud selain Allah adalah nisbi belaka termasuk manusia dan agama itu sendiri. Betapapun tingginya kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna tetap ia bersipat nisbi sehingga memutlakan diri sendiri sebagai manusia dan atau memutlakan manusia lain bertentangan dengan prinsip ketuhanan (Tauhid).

Salah satu kelanjutan logis prinsip ketuhanan itu ialah paham kesamaan manusia. Seluruh manusia di muka bumi ini adalah sama baik itu harkat dan martabatnya termasuk jalan yang ditempuh manusia untuk sampai pada Yang Maha adalah nisbi. Maka menganggap diri paling benar, merasa sebagai pemegang kunci surga sementara orang lain yang tidak sepaham dengannya dianggap salah dan akan masuk neraka bertentangan dengan prinsip ketuhanan (tauhid) itu sendiri. Atas dasar prinsip ketuhanan tersebutlah seyognya bangunan kerukunan antarumat bergama berdiri kokoh, hidup damai menjadi sebuah keniscayaan. Jadi sesungguhnya soal kerukunan dan toleransi adalah hasil dari sikap yang sangat sederhana yakni kritik-diri atas keterbatasan manusia, keterbatasan pemikiran dan keterbatasan alam.

Kendatipun begitu, dengan menganggap bahwa yang mutlak adalah Tuhan sementara agama sebagai jalan adalah nisbi bukan berarti penulis menganggap bahwa semua agama sama-sama benar. Tidak logis ketika penulis selaku pemeluk Agama Islam kemudian menganggap kebenaran Islam tidak mutlak begitu pun dengan penganut agama lain yang tentunya harus memutlakan keyakinannya. Sekilas menyiratkan kesan kontradiksi, di satu sisi diyakini prinsip “Yang Mutlak” hanyalah Tuhan semata. Sementara agama sebagai jalan bersifat nisbi. Tetapi tiba-tiba harus meyakini agama memiliki kebenaran mutlak yang semula bersifat nisbi.

Nah, mengutip Seyyed Hossein Nasr hal tersebut diistilahkan sebagai relatively absolute. Maksudnya, meskipun agama itu hanya sekedar jalan (yang bersifat relatif) menuju kepada “Yang Absolute” tetapi jalan (agama) tersebut harus diyakini sebagai jalan yang memiliki nilai kemutlakan, harus ada klaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salvation) oleh masing-masing pemeluk agama dalam dirinya sendiri. Dengan begitu memutlakan agama yang dianutnya dirinya sendiri saja (personal) sebuah keharusan akan tetapi pada sisi lain, ketika hidup keluar (sosial) harus membuka ruang toleransi.

Dengan perspektif demikian, maka setiap umat beragama tidak saja semakin komitmen pada ajaran agamanya masing-masing, tetapi juga akan membuka diri terhadap ruang kerukunan dan toleransi antarumat beragama dalam rangka mendialogkan ide dan wawasan spiritualnya di tengah keragaman agama.

Kurban Momentum Membangun Kebersamaan

Jadi, melalui milat Nabi Ibrahim yang hakikatnya kepatuhan atau ketundukan kepada Allah SWT lah umat manusia dipertemukan, bahwa yang Maha adalah Tuhan sementara selainnya adalah nisbi.Maka saling menghormati satu sama lain, hidup rukun dan toleransi adalah sebuah keniscayaan dalam hidup manusia yang relatif.

Di antara sikap kepatuhan yang dicontohkan Nabi Ibrahim adalah ketika mendapat perintah menyembelih putra kesayanganya. Hal inilah yang kemudian diabadikan dalam sebuah peringatan yang tiap tahun dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia yakni Hari Raya Kurban.

Ibadah kurban memiliki dua dimensi, pertama dimensi kesalehan pribadi yakni bentuk syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dan juga sebagai wujud dari ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Kedua dimensi kesalehan sosial, dimana dalam ibadah kurban ada kesediaan berbagi kepada mereka yang hidup dalam garis kemiskinan tanpa melihat perbedaan suku, ras dan bahkan agama.

Oleh karena itu, dengan semangat ketaatan dan kepatuhan, ibadah kurban bisa menjadi momentum untuk membangun kebersamaan, kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Melalui ibadah kurban juga diharapkan akan lahir sikap peduli dan cinta kasih antar sesamasa hingga pada akhirnya akan lahir rasa simpati antar pemeluk agama, merobohkan rasa curiga dan benci kepada mereka yang berada diluar sana.

Semoga dengan keragaman yang ada di Kota Bekasi bukan menjadi persoalan yang mengganggu proses pembangunan justru sebaliknya mampu menjadi kekuatan untuk mendorong lebih cepat pembangunan Kota Bekasi lebih maju dan sejahtera. (wallahu ‘a’lam)

Penulis: Hamdi, Sekretaris Ikatan Alumni UIN (IKALUIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Cabang Bekasi Raya

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini

To Top