Anggota Gafatar Bekasi Segera Dipulangkan dari Kalimantan – Klik Bekasi

Anggota Gafatar Bekasi Segera Dipulangkan dari Kalimantan

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Sulistyo Pudjo mengatakan, 11 orang eks anggota organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) segera dipulangkan dari Desa Moton Panjang dan Tanjung Pasir, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada Jumat (22/1/2016).

Sulistyo mengatakan, dari sekira 1,124 orang, tercatat ada 97 eks anggota Gafatar yang berasal dari Jabar dan Banten. “Besok dipulangkan,” kata Sulistyo kepada wartawan, seperti dikutip dari Tribunnews, Kamis (21/1/2016) malam.

Rinciannya, Bekasi (kota dan kabupaten) sebanyak 11, Tasikmalaya 13 orang, Depok enam orang, Bogor 39 orang, Cirebon 12 orang, Banten empat orang, Kuningan sebanyak empat orang, Garut empat orang, dan Bandung empat orang.

“Ada 97 orang dari Jabar dan Banten. 17 di antaranya merupakan balita. Ada enam orang yang usianya di atas 50 tahun,” katanya.

Menurut Sulistyo, mereka akan dipulangkan melalui jalur laut menggunakan kapal KRI Teluk Amboina dari Kalimantan Barat menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dari Semarang, mereka akan dibawa ke Barat menggunakan jalur darat.

Sekadar diketahui, pada Selasa (19/1/2016), permukiman yang dihuni eks anggota Gafatar di Moton Panjang dan Tanjung Pasir dibakar oleh sekelompok massa. Eks anggota Gafatar diusir oleh massa.

Berita orang hilang

Sebelumnya, berita tentang ‘orang hilang’ yang diduga kuat bergabung dengan Gafatar mewarnai media massa. Di Bekasi, sedikitnya ada dua orang yang melapor ke polisi karena kehilangan anggota keluarganya.

Seorang perempuan bernama Asri Pertiwi (28), warga Jalan Dasa Dharma Raya, RT 04 RW 07, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, dikabarkan hilang.

Irvan Mardianto (35), suaminya, melapor ke Polresta Bekasi Kabupaten pada Rabu (6/1/2016). Menurutnya, sang istri hilang sejak 28 Desember 2015 lalu bersama kedua anaknya perempuan dan laki-laki yang masih kecil.

“Istri saya, dan dua anak saya, hingga sekarang belum pulang. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada polisi,” kata Irvan, Rabu (13/1/2016) kepada wartawan, di rumahnya

Mahasiswa semester I Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia, bernama Nadil Muhammad Dzakir (20), juga dikabarkan hilang sejak Minggu, 10 Januari 2016.

Keluarganya melaporkan kasus ini ke Polsek Tambun, Kabupaten Bekasi, pada Selasa (12/1/2016).

Nadil selam ini tinggal bersama sang orangtua di Perumahan Bekasi Timur Permai Blok D-17, RT 04 RW 02, Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Tiap hari, aktivitas di luar rumah hanya kuliah saja di UI Depok.

“Minggu itu, ia bilang mau pergi ke masjid sekitar rumah untuk salat Ashar. Setelah itu dia tidak pulang. Kami sudah mencarinya ke kampus, tapi tidak ada,” kata Nurbaiti (55), ibu Nadil, saat ditemui di rumahnya, pada Senin (18/1/2016).

‘Kami hanya bertani’

Juru bicara eks anggota Gafatar, yang menyebut dirinya Wisnu Windhani mengatakan mengatakan, kehadiran mereka di Kalimantan hanya untuk bertani setelah aktivitas mereka ditolak di berbagai wilayah lainnya.

“Kami di sini (Kalimantan Barat) hanya ingin bertani, kami ingin menjadikan Borneo ini lumbung pangan nasional, lumbung pangan bagi bangsa ini,” katanya seperti dikutip BBC Indonesia.

“Kami menanam padi, menanam sayur-mayur, melakukan kegiatan untuk kedaulatan pangan, tapi kelihatannya di Kalimantan pun kami tidak bisa diterima,” jelasnya.

Di sinilah, dia merasa seperti kebingungan. “Kami sekarang ini tidak tahu mau bagaimana. Kami kembali ke tempat asal kami, kami tidak diterima, Tapi di sini (Kalimantan Barat) pun kami tidak diterima.”

“Kami tidak tahu negeri mana lagi yang mau menerima kami.”

Karena itulah, lanjutnya, apabila ada negara lain yang mau menampung mereka, dirinya meminta agar “dibantu keluar” dari Indonesia.

“Tolong kami. Kami membutuhkan suaka hari ini,” kata Wisnu berulang-ulang. Dia mengaku telah mengirim surat elektronik (email) kepada perwakilan sejumlah negara untuk meminta suaka.

Sebagai warga Indonesia, Wisnu dan kawan-kawan mengaku haknya telah diinjak-injak.

“Kami tidak boleh bersuara, kami tidak bisa menentukan pilihan, bahkan kami bertempat tinggal pun, kami tidak diinginkan.” (Tim)

Jangan sungkan untuk berkomentar, ya!