OPINI: Sejarah Dilupakan, Pancasila Digadaikan, Kapitalis Tepuk Tangan – Klik Bekasi

OPINI: Sejarah Dilupakan, Pancasila Digadaikan, Kapitalis Tepuk Tangan

Pemuda-pemudi kini sepertinya sudah tutup mata, tutup telinga pada sejarah bangsanya sendiri. Padahal semua kemajuan bangsa ini dapat dicapai jika kita mau belajar dari sejarah. Founding Father kita, Soekarno pernah bilang “Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Perekonomian kini menjadi wacana yang hangat ditengah masyarakat yang mayoritas dikategorikan miskin.

Sistem ekonomi di Indonesia yang dilandaskan berdasarkan garis-garis besar Pancasila bukan lagi menjadi suatu sistem yang diaktualisasikan secara relevan. Pada realitanya sitem ekonomi Indonesia kini condong berkiblat ke barat menjadi sistem ekonomi yang secara implisit berjalan secara masif di Indonesia. Indonesia menjadi objek sistem ekonomi neoliberalisme oleh para kapitalis barat itu. Yang menekankan metode perdagangan bebas dengan campur tangan pemerintah dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan dan pengaman yang mendukung berjalannya sistem ini.

Paket kebijakan neoliberalisme dikenal dengan Konsensus Washington yang diperkenalkan pertama kali oleh John Williamson, pada saat itu Amerika bekerja sama dengan World bank, IMF, dan kementerian keuangan Amerika yang berpusat di Washington.

Berikut ini adalah program pokok Konsensus Wahington (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk kebijakan penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN. Bisa dibayangkan jika sistem ini diterapkan di Indonesia. Ini namanya pengkhianatan pada falsafah negara, Pancasila, yang jelas-jelas dirumuskan oleh Founding Father kita bukan hanya sebatas kata-kata belaka. Tapi falsafah ini dirumuskan dengan ditarik secara objektif dari sejarah bangsa kita.

Soekarno masa itu sudah mengendus model penjajahan baru, bukan secara fisik namun secara ekonomi yang dilakukan bangsa barat kepada negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia.

Masih ingatkah kalian dengan mafia barkeley?

Sebuah contoh implementasi neoliberalisme di Indonesia yang dimulai pada saat rezim orde baru berkuasa, untuk mengatasi inflasi besar-besaran dalam situasi politik yang kacau. Disanalah para mafia Barkeley bermain, sebuah konspirasi antek-antek barat untuk mengatur perekonomian Indonesia sedemikian rupa untuk menguntungkan para kapitalis itu.

Dengan dibukanya pasar bebas dan privatisasi kekayaan negara. Untuk mengatasi inflasi pada saat itu mereka menjual sebagian besar aset negara, sektor sumber daya alam dikelola oleh perusahaan-perusahaan barat. Subsidi dihapuskan sehingga pengusaha-pengusaha kecil kurang dapat mengembangkan kualitas dan kuantitas dari produktivitas.

Para kapitalis itu dengan bebas berinvestasi di tanah Indonesia, produk-produk asing mulai menjamur dimana-mana sehingga mematikan pedagang dan pengusaha kecil yang secara infrastruktur belum siap menghadapi persaingan global. Sehingga banyak rakyat yang usahanya gulung tikar. Hal ini memunculkan stigma masyarakat bahwa produk asing lebih baik dari produk lokal.

Dominasi para kapitalis itu semakin kental ketika mereka mengadakan joint venture dengan perusahan-perusahaan lokal, namun tetap saja mereka memperoleh porsi keuntungan yang jauh lebih besar. Lalu disaat itulah mereka menguasai pasar Indonesia, masyarakat bergantung pada produk buatan asing. Sementara produk lokal mulai kehilangan nama dan bangkrut.

Pengangguran bertebaran, kemiskinan bukan lagi menjadi wacana melainkan realita. Harga barang kebutuhan pokok masyarakat dinaikkan tak tanggung-tanggung oleh para kapitalis itu. Dan sistem ini seolah-olah mendarah daging dalam sistem perekonomian Indonesia.
Kita lupa sejarah bangsa kita yang kaya akan sumber daya alam, pertanian, perikanan, hutan, tambang dll.

Kita lupa bagaimana dulu Majapahit dan Sriwijaya bisa menjadi kerajaan yang sangat maju. Bukan dengan sistem neoliberalisme, tapi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Memang perekonomian berkembang sesuai zaman, globalisasi menjadi suatu isu hangat dunia. Namun tak ada salahnya belajar dari sejarah, belajar dari sejarah bangsa yang berdikari, yang sanggup tegap berdiri dikaki sendiri.

Kita seperti orang yang xenocentris, yang menganggap bangsa lain lebih baik dari bangsa sendiri. Padahal Indonesia bangsa yang beda, memiliki kekayaan melimpah dan sejarah peradaban yang panjang. Bangsa Indonesia terlahir pada Kongres Pemuda Ke-2 pada tanggal 28 Oktober 1928 saat para pemuda menyatakan “kami putra dan putri Indonesia berbangsa yang satu bangsa Indonesia”, disini bangsa indonesia terlahir dan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, bangsa menyatakan kemerdekaanya, dan sebelum merdeka pada tanggal 1 juni 1945 ditetapkan dasar indonesia merdeka, ‘pancasila menjadi dasar indonesia merdeka’ Barulah pada tanggal 18 Agustus 1945 negara terbentuk, dengan disahkan UUD ’45, disahkannya konstituante.

Disinilah yang banyak tidak diketahui pula oleh para pemuda dan pemudi kita, perbedaan antara bangsa dan negara. Menurut Ernest Renan, bangsa adalah suatu nyawa, suatu akal yang terjadi dari dua hal, yaitu rakyat yang harus bersama-sama menjalankan satu riwayat, dan rakyat yang kemudian harus mempunyai kemauan untuk menjadi satu.

Menurut F. Ratzel, bangsa yaitu kelompok yang terbentuk karena adanya hasrat bersatu. hasrat tersebut timbul karena adanya rasa kesatuan antar manusia dan tempat tinggalnya. Menurut Anthony D. Smith, bangsa adalah suatu komunitas manusia yang memiliki nama, menguasai suatu tanah air, memiliki mitos-mitos dan sejarah bersama, budaya publik bersama, perekonomian tunggal, dan hak serta kewajiban bersama bagi semua anggotanya.

Menurut George Jellink, negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu.

Menurut Karl Marx, negara adalah alat kelas yang berkuasa untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain. Menurut Logeman, negara adalah organisasi kemasyarakatan yang mempunyai tujuan untuk mengatur dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya.

organisasi itu adalah ikatan-ikatan fungsi atau lapangan-lapangan kerja tetap.

Dapat disumpulkan dengan definisi Bung Karno, bangsa adalah segenap jiwa yang menyatakan bersatu dalam suatu wilayah teritorial dan geopolitiklah yang mengaturnya. Dan negara adalah suatu lembaga kekuasaan, sehingga didalamnya berisi kepentingan-kepentingan.

Bangsa menjadi pondasi di Indonesia, oleh karna itu negara diatur oleh bangsanya, yang mengamanatkan MPR sebagai pemberi mandat tunggal, lewat penetapan dari pada garis garis besar dari pada haluan negara dan undang undang dasar.

Berbeda dengan Amerika dan negara-negara barat lain. Jika Indonesia mengikuti sistem perekonomian bangsa barat itu layaknya manusia yang berjalan kepala dibawah kaki diatas. Makanya perekonomian kita lambat dan tertinggal, selalu menjadi objek bulan-bulanan untuk mengeruk kekayaan.

Pancasila yang ditetapkan pada 1 Juni 1945 menjadi falsafah, menjadi keyakinan standar, jiwa dan kepribadian bangsa. Sila-sila yang terdapat didalamnya mempunyai esensi yang luar biasa dan berbeda dari bangsa dan negara lain terutama negara-negara barat yang mengusung kebebasan dalam segala hal.

Berdasarkan Pancasila, kebebasan dibatasi oleh hukum-hukum Tuhan, mensandarkan kerelativan kapada keabsolutan hukum yang pasti, tetap dan diterima semua orang, Rakyat pribumi asli mendapatkan hak-hak kemanusian yang adil, Indonesia yang negara kepulauan dan antar pulau dipisahkan oleh batas alam dapat disatukan dengan Pancasila untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya, musyawarah untuk mencapai mufakat dan tentunya keadilan dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, politik dan lainnya.

Jika kita mau belajar dari masa lalu, dari sejarah peradaban Indonesia dan disesuaikan dengan falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila maka perekonomian Indonesia tidak akan compang-camping seperti sekarang ini. Jika kita mau belajar bahwa sistem ekonomi neoliberalisme yang pernah berjalan di Indonesia gagal dan malah menambah carut marutnya bangsa ini kedepannya sudah pernah terbukti.

Jadi jangan sampai sejarah buruk itu terulang kembali, jangan sampai terjerembab kedalam lubang yang sama. Jangan melupakan sejarah bangsa kita yang panjang, yang penuh dengan tumpah darah perjuangan, jangan gadaikan falsafah bangsa kita demi kepentingan segelintir pihak. Kapitalis sedang bersorak-sorak disana, menunggu kehancuran kita.

Kembalilah menjadi manusia manusia indonesia yang adil, yang beradab, yang berjalan sesuai peradaban, yang berjalan sesuai sejarah bangsanya.
Oleh: Syahrul Ramadhan, Ketua Forum Jurnalis Bekasi

Jangan sungkan untuk berkomentar, ya!