Gedung Juang Tambun, Berjuang Melawan Sepi – Klik Bekasi

Gedung Juang Tambun, Berjuang Melawan Sepi

Senja Mulai temaram. Ribuan burung walet berterbangan mengitari Gedung Juang, mencari celah untuk masuk. Dari dalam gedung, gerombolan kelelawar justru keluar, mereka bergantian menjalani rutinitas alam yang telah di gariskan. Suara cericit seolah sapaan hangat untuk bergantian tempat di dalam gedung. Lama tak berpenghuni, kini Gedung Juang ditempati ribuan burung walet dan kelelawar.

Gedung yang terletak di Jl. Sultan Hasanudin Kecamatan Tambun tersebut, terlihat merana. Warna dindingnya kusam, dan dibiarkan berlumut disana-sini. Beberapa bagian gedung, seperti jendela, eternit dan lantainya terlihat rusak. Jika malam hari, penerangan minim sehingga lebih mirip seperti “rumah hantu” ketimbang bangunan bersejarah. Terakhir, Gedung Juang dijadikan Perpustakaan Daerah pada tahun 2007. Tapi setelah Perpusatakaan Daerah dipindah. Gedung Juang kembali kosong dan kesepian.

Padahal Gedung berarsitektur neoklasik tersebut memiliki sejarah yang panjang, baik pada masa pergolakan kemerdekaan maupun setelah Indonesia merdeka. Dibangun pada tahun 1906 oleh seorang tuan tanah bernama Kow Tjing Kie. Pada masa perlawanan Gedung ini dijadikan markas pertahanan pejuang Bekasi. Saat Belanda meninggalkan Indonesia pada tahun 1942, gedung ini sempat dikuasai oleh tuan tanah bernama Kouw Oen Huy, sebelum akhirnya digunakan oleh Jepang sebagai pusat kekuasaan untuk daerah Bekasi dari tahun 1943- 1945.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Komite Nasional Indonesia (KNI) mengambil alih gedung untuk dijadikan kantor Kabupaten Jatinegara, disamping dijadikan pusat komando tentara Republik menghadapi tentara sekutu usai perang dunia ke dua. Dalam masa perkembangan selanjutnya, gedung ini pernah dijadikan kantor Dinas Pekerjaan Umum Bekasi pada tahun 1950. Tahun 1951 dijadikan markas pasukan TNI Angkatan Darat Batalyon “Kian Santang” yang kemudian saat ini menjadi Kodam III Siliwangi. Sampai tahun 1960, gedung ini juga dijadikan tempat persidangan DPRDS, DPRD-P, DPRD TK II Bekasi dan DPRD-GR. Saat meletus pemberontakan G-30 S PKI, Gedung ini dijadikan tempat penampungan para tahanan politik PKI.

Akademi Pembangunan Desa (APD) yang merupakan cikal bakal Universitas Islam 45 Bekasi juga pernah mengunakan gedung ini sebagai tempat perkulian. Kemudian pada tahun 1990 an, bergantian gedung ini dijadikan tempat aktivitas perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi. Seperti Kantor BP-7, Kantor Legiun Veteran, Sekretariat Pemilu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Sekretariat Kantor Pepabri dan Wredatama, kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kantor Tenaga Kerja dan terakhir dijadikan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bekasi tahun 2007. Di bagian samping bangunan saat ini dijadikan Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi.

Sepinya aktivitas Gedung Juang juga menyebabkan menurunnya pendapatan para penjual makanan dan minuman yang ada disekitarnya. Hal itu diakui oleh Markus, penjual minuman yang sehari-hari mangkal di depan gedung. Menurut Markus, waktu masih ada perpustakaan daerah, pendapatannya berjualan cukup lumayan. Para pembeli kebanyakan merupakan pengunjung gedung.

“Tapi sekarang sepi, paling mengandalkan orang lewat atau yang lagi nunggu angkot” ucap Markus yang mengaku telah berdagang di tempat ini dari tahun 1997

Wacana untuk memfungsikan gedung juang menjadi museum atau gedung kesenian dan kebudayaan sudah digelontorkan sejak zaman kepemimpinan Saleh Manaf. Namun, sampai saat ini, di era kepemimpinan Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin, tetap tidak terealisasi.

Gedung Juang Tambun kini kesepian dan merana. (Bratha)

Jangan sungkan untuk berkomentar, ya!