Gedong Papak, Kantor Pertama Pemerintahan Bekasi Berdiri – Klik Bekasi

Gedong Papak, Kantor Pertama Pemerintahan Bekasi Berdiri

Gedong Papak yang berlokasi di Jalan Djuanda 100 Bekasi Timur Kota Bekasi, merupakan saksi bisu sejarah Bekasi. Di Gedung ini, pusat pemerintahan Bekasi pertama kali digerakkan. Namun, kini kondisi gedung bersejarah ini memprihatinkan, bahkan Pemkot Bekasi berencana membongkarnya.

Gedong Papak resmi dijadikan kantor pemerintahan Bekasi sejak 2 April 1960. Sebelumnya, pada awal Bekasi dibentuk pada 15 Agustus 1950, pusat pemerintahan masih berada di daerah Jatinegara (sekarang Markas Kodim 0505 Jayakarta, Jakarta).

Gedong Papak dibangun pada era tahun 1930 oleh seorang tuan tanah bernama Lee Guan Chin. Gaya arsitekturnya mengikuti gaya yang kala itu sedang popular. Maka tidak heran jika gedung papak juga bisa dijumpai di Jakarta, Tanggerang, Bogor , Bandung , Semarang hingga Kudus.

Nama Gedong artinya bangunan atau rumah, sedangkan Papak berasal dari kata pak-pak atau rumah yang atapnya tidak ada genteng tapi diplester atau diratakan (masyarakat Bekasi menyebutnya pak-pak).

Pada saat Jepang masuk ke Indonesia, gedung ini diserahkan sukarela oleh Lee Guan Chin kepada KH Noer Alie yang saat itu menjadi pemimpin pergerakan revolusi di Bekasi. Gedong Papak kemudian dijadikan markas perjuang Bekasi.

Gedong Papak menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi hingga tahun 1982. Baru kemudian pusat pemerintahan kembali dipindah ke Jalan A Yani, sampai terjadi pemekaran antara Kota dan Kabupaten Bekasi. Kantor Pemerintahan di Jalan A Yani masih digunakan sampai saat ini.

Semenjak itu, Gedong papak tidak menjadi kantor pemerintahan, namun dijadikan rumah dinas Walikota sejak masa Walikota administratif H. Soejono hingga masa H.Kailani.

Barulah pada 2004 di bawah kepemimpinan Walikota Akhmad Zurfa’ih, bangunan bersejarah itu dijadikan mushala.

Kini Gedong Papak selain digunakan untuk shalat, juga digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan lainnya di bulan suci Ramadan. Mushala itu sendiri mampu menampung hingga 50 orang jamaah.

Bangunannya sendiri terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk mushala sedangkan lantai dua untuk Kantor Komisi Pemberantasan AIDS Daerah Kota Bekasi.

Sayangnya, karena Pemerintah Kota Bekasi kurang peduli terhadap peninggalan bersejarah, banyak generasi muda yang tidak tahu jika Gedong Papak ini pernah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang Bekasi.

Ironisnya, Walikota Bekasi Rahmat Effendi berencana membongkar Gedong Papak tersebut.

Sepertinya, rencana Walikota Bekasi harus dikaji ulang. Jangan pernah lupakan sejarah! (brat)

Jangan sungkan untuk berkomentar, ya!